Minggu, 18 April 2010

"Dalih Pengabdian"


Wahai Rakyat

Tahun lalu saya datang dihadapan kalian semua untuk meminta dukungan. Tanpa ragu dan malu saya bersujud meminta pertolongan agar kalian mau menyelamatkan muka saya dihadapan politisi lain. Saya tidak ingin kalah atau dikalahkan oleh politisi lain yang mungkin lebih layak menjadi pelayan kalian.
Berbekal janji untuk mengabdi pada daerah ini, pada kota ini yang gelap gulita karena sering mati lampu, pada orang miskin, pada anak putus sekolah, pada balita gizi buruk, pada kalian semua, saya ingin menjadi yang terbaik.
Dengan uang miliaran rupiah yang saya miliki, yang kalian tidak tahu dari mana uang itu saya peroleh, saya recehkan uang itu menjadi lembaran-lembaran 1000 rupiah, lalu saya bagikan kepada kalian agar dapat melihat Pulau Maitara ada di situ, Pulau Tidore juga jelas di lembaran receh itu. Agar kalian juga tahu bahwa saya mencintai pulau-pulau itu, karena paling tidak, saya juga lahir di pulau.
Saya sadar bahwa saya bukan siapa-siapa tanpa dukungan kalian. Saya sadar bahwa dalam hatiku, janji yang ku sampaikan pada kalian tak akan sanggup saya penuhi. Tapi,...swear..., serius,...Saya tidak booo’ong, saya mau mengabdi.
Sebagian uang receh itu (setelah saya saya bagikan pada kalian), saya pakai untuk membuat baliho besar. Baliho berukuran 44 x 44 meter. Bergambar setengah badan saya dengan kemeja batik inpor dari Cina dan peci mahkota teratai yang kupakai itu, saya berharap baliho itu memberi kalian informasi bahwa saya seorang pelayan yang siap mengabdi pada kalian semua. Saya tahu, kalian adalah majikan—pemilik sah kedaulatan pulau-pulau di negeri “Moloku Kie Raha”.
Untuk meyakinkan kalian semua bahwa saya sungguh-sungguh mau mengabdi, tak lupa saya tulis beberapa kalimat di bawah foto saya di baliho itu : “Wahai rakyat, toloooog! Selamatkan saya dari bencana lapar--lapar kekuasaan”. Akhirnya, dengan “Motto” dan “seruan” akal-akalan itu, kalian memilihku--menyelamatkan mu-ka-ku.

Wahai Rakyat

Ternyata benar. Beberapa bulan saya duduk di kursi yang kalian berikan itu, Saya belum dapat memenuhi janji mensejahterakan kalian. Walau begitu, saya berharap kalian paham. Saya berharap kalian tahu bahwa saya tidak punya kewenangan sepenuhnya untuk menentukan alokasi dana untuk bangun sekolah, bangun puskesmas, bangun PLN, bangun jalan, bangun Persiter, dan bangun-bangun lainnya.
Saya berharap kalian tidak lupa bahwa kursi yang kalian berikan adalah sejenis kursi yang tidak memiliki laci dan brangkas uang yang besar. Kursi yang kalian berikan tidak memiliki tangan yang bisa menandatangani surat izin untuk investor, kontraktor dan komprador. Kursi yang kalian berikan hanya memiliki tangan yang pas-pasan untuk menghitung uang receh (ga-ji-ku) 10 juta per bulan, dan uang perjalanan dinas 20 juta per bulan. Kursi yang kalian berikan tidak bisa berbuat banyak. Tidak bisa. Sekali lagi, tidak bisa.

Wahai Rakyat...! Saya berharap kalian tahu bahwa ada satu jenis kursi yang memiliki keistimewaan luar-biasa dahsyat. Kursi itu memiliki tangan untuk melakukan apa saja yang kalian inginkan. Di kursi itu ada proyek besar, brangkas besar, mobil besar, mall besar, dan tak lupa, ada “falo-falo basar”.
Kursi itu membuat semua politisi bernafsu untuk memilikinya, termasuk saya. Kursi itu membuat saya bergairah untuk meninggalkan kursi lama yang kalian berikan pada pemilu yang lalu, yang menurut saya, kursi itu sudah kadaluarsa. Walau saya tahu, masa berlaku kursi itu masih “EMPAT PULUH DELAPAN BULAN” (4 tahun).
Sekali lagi, ada satu buah kusri kebesaran yang maha menggiurkan. Kursi itu ada di tangan kalian. Kursi itu: “Kursi 01 di Kota ini”. Dan, untuk itu sekarang saya datang lagi di hadapan kalian dengan baliho yang lebih besar. Saya datang untuk mengabdi pada kalian. Please...kali ini saya benar-benar mau mengabdi pada kalian. Untuk mewujudkan cita-cita itu, saya berharap kalian tertipu lagi. Walllahu a’lam bissawab.



Cat: Rintihan hati anak Bangsa di perantauan.
Rimba Selatan Celebes, 12 Maret 2010

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Powered By Blogger

Pulau Ternate

Pulau Ternate

Bambu Gila

Bambu Gila
Tarian Adat Maluku/Maluku Utara

Cakalele

Cakalele
Pesta Perang Maluku Utara

CAKALELE

CAKALELE
Tarian Perang Maluku Utara

Soya-Soya

Soya-Soya
Tarian Perang Maluku Utara

www.kamus inggris-indonesia

Belalang

Belalang
Perusak Hutan

Komunitas Riset

Komunitas Riset
Pose bersama sang Guru "George Junus Aditjondro"

Pengikut

Mengenai Saya

Foto saya
Orang yang biasa-biasa saja.Peneliti lepas, Penulis lepas, Paralegal,Comunity Organiser,Fasilitator, konsultan.