Jujur, selama kuliah, saya berhubungan tidak terlalu baik dengan satu mentor/dosen karena beberapa
alasan. Saya tak perlu menyebut nama sang mentor, di sini. Meski begitu,
kata-kata beliau—dalam beberapa aspek kehidupan saya—sering menjadi pemompa passion.
“Jika kau tak bisa menjadi manusia/Mahasiswa, maka jadilah tahi
sapi. Tahi sapi bisa jadi pupuk; jadi duit,” ujar sang mentor, lelaki berkuit
hitam berinsial J yang memang jago menyulap tahi sapi jadi duit.
Saya ingat betul, kalimat di atas Ia lontarkan kepada seorang
teman yang lucu, Mohtar Umasangaji, namanya. Lelaki asal Sanana, yang konon
sudah pandai usil dan melucu sejak dalam kandungan. Karenanya, cacian apa pun
yang ditujukan kepadanya, selalu ia kunyah dengan lelucon.
Tentu yang disasar sang mentor bukan hanya pada Opal (Mohtar),
melainkan pada semua mahasiswa yag Ia bimbing, terlebih pada yang agak bandel. Maksud
sang mentor pun sederhana meski dengan kalimat satir. Juntrungan kalimat yang
Ia lontarkan itu sebetulnya mengadaptasi pesan para motivator bahwa hidup
sesorang harus bermanfaat bagi manusia lain dan alam.
Ok, note ini tak fokus membahas sepak terjang sang mentor.
Ini sekadar pijakan memungut kisah-kisah tercecer dalam pergumulan bersama
kawan-kawan bandel tapi nyentrik.
***
Di zaman itu (tahun 2000-2003), dinamika perkuliahan memang
merupakan akhir dari era kegelapan teknologi informasi dan komunikasi, terutama
di Maluku Utara, terlebih di Unkhair Indonesia (UI). Tak ada satu pun mahasiswa
yang pakai HP. Guna menjadi mahasiswa kesayangan para mentor, Anda harus punya
mesin Tik, rajin beli diktat (modul pelajaran andalan para dosen), dan tak
boleh banyak berdebat dengan dosen meski
untuk hal-hal subtansial yang sangat penting dalam dialektika menemukan
berbagai persilangan dimensi pengetahuan.
Di Fakultas Pertanian, tepatnya, saya memilih jurusan agronomi
dengan satu cita-cita untuk nanti jadi penyuluh pertanian. Sebuah cita-cita
utopis karena kini, saya ternyata leboh cocok dan enjoi jadi buruh, alih-alih
jadi PNS. Apalagi, Fakultas ini pun menjadi pilihan karena lima tahun
sebelumnya, saya sempat berjibaku di Sekolah Penyuluh Pertanian (SPP), sekolah
kejuruan setingkat SMA/SMU. Jadi, pilihan saya pada fakultas pertanian lebih
dominan karena dorongan cara berpikir linier sejak SPP/SMU.
Meski begitu, saya tak pernah menegasikan fakta bahwa
pergumulan penuh “Tahi Sapi” di Pertanianlah bekal petualangan hidup saya
terbentuk. Kebiasan, hobi, dan sikap hidup saya pun masih terus bersinggungan
dengan warna-warni dunia pertanian. Menyemai, mencangkok, Okulasi, Grafting,
menyulap tahi sapi jadi duit, dan membonsai bunga, serta merawat tanaman buah
dalam pot, dan tak lupa memahami pengaruh senyum sapi terhadappertumbuhan dan
perkembangan tanaman Jagung dan kangkung, tetap menjadi aktifitas selingan di
rumah. Hal ini saya lakukan untuk beberapa alasan: Merawat pengetahuan dan
ingatan pada sejarah, juga karena hobi, merawat kehidupan, dan sekadar modus
(biar kelihatan rajin di mata mertua... halah).
Dalam laku keseharian saya yang berisi selingan aktifitas
yang berhubungan dengan dunia tanam-menanam ini, imaji-imaji masa lalu (masa
penuh nakal) seakan tampak di depan mata. Selalu ada diskusi imanjiner penuh
lelucon ala anak muda. Diskusi konyol yang lucu tapi bikin naik pitam.
Suatu saat ada dialog imajiner bersama Opal.
Saya: Opal, apa kiatnya biar badan kita cepat gemuk?
Opal: kau harus banyak makan dengan menu yang berkuah,
seperti aquarium. Atau, makanlah yang berdaun: Daun pintu, daun jendela, juga
daun sosoro (bisa bikin badan cepat gatal, bengkak, lalu gemuk).
Saya: Sssetan (dengan nada marah)
Opal: Jang bilang setan bagitu, Ssuanggi!.
Konyolnya, lelucon ini memang pernah benar-benar terjadi
dalam satu sesi kuliah yang kebetulan diasuh oleh Ibu Mita. Dosen imut dan gendut itu pun
tersinggung karena merasa lelucon itu kami tujukan untuk membully kegemukannya.
Walhasil, saya dan Opal dihusir keluar dari ruang kuliah. Wajarlah kalau ia
tersinggung. Tak ada cewek yang suka dengan kegendutan. Saat itu, sang dosen
memang masih perawan.
Lelucon yang lain:
Saya: Opal, hari ini ngana (kau) adalah laki-laki paling
ganteng di seluruh kebun binatang.
Opal: Jangan bagitu, nyong. Dasar kadal.
Seperti itulah kalau Opal ikut nimbrung dalam diskusi. Segala
hal yang seharusnya dikelola dengan serius pun jadi rusak berantakan. Pria yang
lahir langsung tertawa ini tak bisa diajak tertib diskusi, alih-alih serius.
Opal pernah protes dan tak mau kuliah bahasa Inggris, hanya karena bahasa ini
bukan bahasa nenek moyangnya.
Meskipun demikian, imaji-imaji saya tentang masa penuh liku
itu tidak hanya tentang Opal. Ada hal-hal lain yang menggembirakan,
menyedihkan, jugamenegangkan.
Ada kawan yang Cinlok di lahan praktek Tobenga, lalu bubar di
lahan jati, Jan, atau Mangga Dua. Ada juga yang serius sampai menikah; ada yang
gagal merayu bertahun-tahun, uppss, tak perlu diteruskan kisah ini.
Tentang hal-hal yang serius, terutama dalam dinamika
perkuliahan, ada beberapa tipe kawan yang lumayan tekun, jenius dan disiplilin.
Semua mata kuliah, dengan berbagai tugas pratek lapangan diselesaikan dengan
tuntas sesuai perintah mentor. Saya adalah kategori mahasiswa yang sedikit
bandel dalam urusan bikin tugas praktek. Apalagi di kelas yang diasuh
mentor-mentor penyembah diktat. Saya selalu menghindar, meski tetap angkat topi
pada yang displin. Tentu bukan hanya saya yang bandel. Jeri dan Sehan pernah
dihusir keluar Laboratorium karena ketahuan memalsukan dokumen praktek, eeiit,
stop (jangan ungkit aib mahasiswa nakal, hehehe).
Masih banyak teman lain yang juga tak kalah nakal. Tetapi mereka
beruntung karena lihai mengelabui dan pandai marayu Dosen (ehem). Siapa yang
percaya kalau Ucu Solissa, Kamal, Aswar, Sardi, Jul Bido, Ul Sialana, dan Feher
Lasut itu lelaki yang ‘sportif’ dalam kuliah? Atau, siapa yang yakin kalau
Wahyudin, Rahman Bacan, Wahab Tobolo, Albar, Ai, dan Ikbal Tomagola adalah pria
jujur, yang tak pernah ‘nyontek’ kunci jawaban saat ujian semester, terutama
untuk mata kuliah tingkat dewa seperti Rancangan Percobaan dan Ilmu Tanah (Ilmu
Gali Lubang di Kebun Aren Kampung Makian, Bacan), dengan segala tetek-bengek
seperti permeabilitas dan perkolasi, yang bikin kepala jadi mumet, itu? Ok,
baiklah. Masih banyak lelucon lain, tapi tak cukup untuk saya rajut dalam note
pendek ini. Yang pasti, saya tetap percaya semua kawan ini adalah orang baik
yang penuh gairah.
Karenanya, saya memiliki banyak sekali alasan untuk memberi
apresiasi, terutama karena kesempatan membangun kebersamaan dalam pergumulan
memeroleh berbagai pengalaman dan persilangan dimensi intelektual, yang kini
menjadi bekal merajut hidup dan merawat kehidupan. Guna menjaga sedikit ketrampilan
yang masih terawat, yang saya pungut dari pergumulan akademis yang singkat itu,
saya harus berterima kasih—meski tak cukup—pada banyak kamerad.
Terima kasih dan angkat topi untuk Ngoni samua: Diman Abaela, mahasiswa paling cepat meski rumahnya paling jauh dari
kampus. Nuzul, mahasiswa yang juga
cepat tuntas kuliahnya, meski sebelumnya sempat gagal di Fakultas Kedokteran
Universitas Indonesia. Ida,
perempuan pendek tapi pintar karena tubuhnya berisi otak semua. Ice, orang yang selalu Ceria. Saya
pernah berhutang duit kepadanya sebesar Seratus Ribu Rupiah. Belum sempat saya
lunasi sampai sekarang. Empat orang teman ini memiliki kemampuan yang luar biasa,
terutama dalam ilmu statistik dan Rancangan Percobaan. Dua mata kuliah yang
sangat ditakuti oleh otak kalkulator tengkulak atau ‘dibo-dibo’ seperti saya.
Mereka memiliki kemampuan di atas kalkulator 3600FX, dan kerenanya memang layak
jadi pejabat teras di Dinas Pertanian.
Opal, Lelaki pembawa sisir rambut. “Lebih
baik tidak makan daripada tidak sisir rambut,” katanya.
Sardi Sapsuha, Lelaki kurus (Tunggul), penyuka
lagu-lagu slank dan Dewa. Sudah jadi Kadis Pertanian di Sula.
Salim Sialana, Ahli oven rumput dan gulma. Laki-laki
‘sabiji’ yang bikin banya ‘parampuan’ mati gantong rasa.
Sehan AR, sejurus dengan Salim, lelaki
bermata tajam. Sekali tatap bikin mahasiswi berhenti berkedip.
Jeri, laki-laki karibo dari Halteng. Ia
satu guru degang Opal, suka usil. Thankyu, Bung. Cukup banyak meropotkan bung
di rumah Jati, waktu baku-cakar skripsi.
Jul Bido, pria bertanggung jawab asal palu,
yang ahli mencangkong tapi gagal merajut cinta di Ternate.
Aja, Saudara perempuan paling kecil.
Semoga sekarang sudah sukses.
Ning Nasijaha dan Ning Pora. Dua ning yang beda.
Satu ribut satu badiam ‘dologn’.
Harit, laki-laki ‘panjang’ berdarah
Mareku, tapi berjiwa Papua.
Ibu Aja, ibu bagi semua mahasiswa. Terima
kasih so obrak-abrik rumah waktu biking sagala tugas dari mentor.
Pak Sof, Camat dan sekarang Kepala BLH
Ternate.
Wahab Hi Usman, laki-laki tanoga dari Tobololo.
Aswar Patimura (Paitua Tinggi Muka Raksasa), Lelaki
berdarah biru dari Banda Neira, turunan Patimura.
Ucu Solissa, Lelaki hitam manis asal Pulau Buru.
Sekarang so jadi pejabat Panwas dan KPU.
Siamin Loilatu. Laki-laki ini Ucu pung sudara.
Tukang ribut deng maruahe.
Ena G.M. Perempuan berdarah Batak, Ambon dan
Galela (?). Sekarang so jadi Bos di Tobelo.
Rahman, Pengusaha Kamplang asal Mandawong.
Sekarang pengusaha Gula Merah.
Feher Lasut, Lelaki berdarah Sangihe/Minahasa
(?), berjiwa Patani, Halteng, Malut.
Tak lupa kelompok huru-hara: Risky Afrianti Nasi Padang, Masni,
Leha Gode, As atlet Foli, Afni, Baya Sanana, Tata Tidore, Fatum Ambon, Surti Edo
Dufa-dufa, Rosita Ishak Camat Weda, Risky Pora, Nuryadin, Robi, Salim Masuara, Odon
Duwila, Ibu Nursafa, Ali Lestaluhu, Supardi Marikurubu, Dani Mangga Dua, Kamil
Sanana, Jainuddin Patani, Wahyuddin Malifut, Ikbal Tomagola Banemo, Alm Ali
Ohorella, Alm. Nia. Tahmid Bilo, Riski Pora.
Kalau ada yang tidak saya sebut namanya, itu pasti karena
banya utang.... hahaha, bagitu sudah.
Rindu mo bakudapa deng ngoni samua, tapi tak punya
keberanian karena takut biking ngoni sibuk.
Terima Kasih Untuk
Ngoni Samua.
Tepi Lembah, Kalumata, 28 Juli 2016.
Salam
Zhoel Rimba


Tidak ada komentar:
Posting Komentar