Suatu ketika kau datang di rumah-ku.Waktu itu musim panen (panen suara). Aku tak tak tahu apa tujuan-mu,karena kutahu tak pernah mengundangmu untuk datang.
Dengan wajah tersenyum simpul (setengah muka ”maskena”), kau menawarkan berjuta harapan. Harapan akan masa depan Kota Ternate. Kota yang oleh teman-mu yang juga pernah datang kerumahku adalah; Kota Madani, Kota Pantai, Kota Pelangi, Kota Budaya. Dan entah kota apa lagi. Aku tak tahu apa maksudnya.
Dengan penuh percaya diri, kau lantang menceramahi aku. Bahwa kota ini butuh perubahan. Seolah kau pun tak percaya pada mimpi kawanmu bahwa ternate adalah Kota Madani....Aku percaya saja, karena kau begitu meyakinkan aku bahwa kau dapat meproduk ”Ternate” menjadi lebih baik. Aku menerima tawaranmu untuk menjadi pendukung setia di ruang TPS (Tempat pemungutan Suara)....Aku benar-benar setia.
Dihari yang kau nanti-nanti¬¬ (pemilu)...,--aku mewujudkan harapanmu (memilihmu/mencontreng namamu) sebagai seorang calon pemimpin Kota Ternate. Jadilah kau orang nomor..., di Kota ini.
Seiring waktu berjalan..., aku bahkan tak tahu tentang apa yang telah kau perbuat pada ”Ternate”, selama masa jabatanmu..., pada apa yang kau bilang waktu itu; melalui ceramah, Baliho, spanduk, bahwa ”Ternate Butuh Perubahan”. Aku hanya tahu beberapa hal; Kerjamu di Gedung Mewah, Ruangan ber-AC, Kursi Sova—sesekali/seringkali ke luar daerah (studi banding [urusan dinas] dan lain-lain). Aku membayangkan, ”itu pekerjaan yang sadap skali.”
Kini Kau Datang lagi Padaku
Dengan gaya ceramah yang sama, kau mencoba merayuku dengan gaya yang semakin ”maskena”. Tapi..., aku hanya bisa bilang, ”aku Bukan yang dulu Lagi”. Benar, bahwa Ternate butuh perubahan. Untuk itu saya butuh perubahan dengan tindakan nyata. Bukan berkoar ”omong kosong”.
Dengan wajah tersenyum simpul (setengah muka ”maskena”), kau menawarkan berjuta harapan. Harapan akan masa depan Kota Ternate. Kota yang oleh teman-mu yang juga pernah datang kerumahku adalah; Kota Madani, Kota Pantai, Kota Pelangi, Kota Budaya. Dan entah kota apa lagi. Aku tak tahu apa maksudnya.
Dengan penuh percaya diri, kau lantang menceramahi aku. Bahwa kota ini butuh perubahan. Seolah kau pun tak percaya pada mimpi kawanmu bahwa ternate adalah Kota Madani....Aku percaya saja, karena kau begitu meyakinkan aku bahwa kau dapat meproduk ”Ternate” menjadi lebih baik. Aku menerima tawaranmu untuk menjadi pendukung setia di ruang TPS (Tempat pemungutan Suara)....Aku benar-benar setia.
Dihari yang kau nanti-nanti¬¬ (pemilu)...,--aku mewujudkan harapanmu (memilihmu/mencontreng namamu) sebagai seorang calon pemimpin Kota Ternate. Jadilah kau orang nomor..., di Kota ini.
Seiring waktu berjalan..., aku bahkan tak tahu tentang apa yang telah kau perbuat pada ”Ternate”, selama masa jabatanmu..., pada apa yang kau bilang waktu itu; melalui ceramah, Baliho, spanduk, bahwa ”Ternate Butuh Perubahan”. Aku hanya tahu beberapa hal; Kerjamu di Gedung Mewah, Ruangan ber-AC, Kursi Sova—sesekali/seringkali ke luar daerah (studi banding [urusan dinas] dan lain-lain). Aku membayangkan, ”itu pekerjaan yang sadap skali.”
Kini Kau Datang lagi Padaku
Dengan gaya ceramah yang sama, kau mencoba merayuku dengan gaya yang semakin ”maskena”. Tapi..., aku hanya bisa bilang, ”aku Bukan yang dulu Lagi”. Benar, bahwa Ternate butuh perubahan. Untuk itu saya butuh perubahan dengan tindakan nyata. Bukan berkoar ”omong kosong”.
(Kabar dari Kampong)
Ket :
Maskena : tara tau diri.
Sadap : Enak


Tidak ada komentar:
Posting Komentar