Rabu, 27 Juli 2016

Herbarium: Merawat Ingatan Pada Pengetahuan Dan Sejarah



Jujur, selama kuliah, saya berhubungan tidak terlalu  baik dengan satu mentor/dosen karena beberapa alasan. Saya tak perlu menyebut nama sang mentor, di sini. Meski begitu, kata-kata beliau—dalam beberapa aspek kehidupan saya—sering menjadi pemompa passion.

“Jika kau tak bisa menjadi manusia/Mahasiswa, maka jadilah tahi sapi. Tahi sapi bisa jadi pupuk; jadi duit,” ujar sang mentor, lelaki berkuit hitam berinsial J yang memang jago menyulap tahi sapi jadi duit.
Saya ingat betul, kalimat di atas Ia lontarkan kepada seorang teman yang lucu, Mohtar Umasangaji, namanya. Lelaki asal Sanana, yang konon sudah pandai usil dan melucu sejak dalam kandungan. Karenanya, cacian apa pun yang ditujukan kepadanya, selalu ia kunyah dengan lelucon.

Tentu yang disasar sang mentor bukan hanya pada Opal (Mohtar), melainkan pada semua mahasiswa yag Ia bimbing, terlebih pada yang agak bandel. Maksud sang mentor pun sederhana meski dengan kalimat satir. Juntrungan kalimat yang Ia lontarkan itu sebetulnya mengadaptasi pesan para motivator bahwa hidup sesorang harus bermanfaat bagi manusia lain dan alam.
Ok, note ini tak fokus membahas sepak terjang sang mentor. Ini sekadar pijakan memungut kisah-kisah tercecer dalam pergumulan bersama kawan-kawan bandel tapi nyentrik.

***
Di zaman itu (tahun 2000-2003), dinamika perkuliahan memang merupakan akhir dari era kegelapan teknologi informasi dan komunikasi, terutama di Maluku Utara, terlebih di Unkhair Indonesia (UI). Tak ada satu pun mahasiswa yang pakai HP. Guna menjadi mahasiswa kesayangan para mentor, Anda harus punya mesin Tik, rajin beli diktat (modul pelajaran andalan para dosen), dan tak boleh banyak berdebat dengan dosen  meski untuk hal-hal subtansial yang sangat penting dalam dialektika menemukan berbagai persilangan dimensi pengetahuan.

Di Fakultas Pertanian, tepatnya, saya memilih jurusan agronomi dengan satu cita-cita untuk nanti jadi penyuluh pertanian. Sebuah cita-cita utopis karena kini, saya ternyata leboh cocok dan enjoi jadi buruh, alih-alih jadi PNS. Apalagi, Fakultas ini pun menjadi pilihan karena lima tahun sebelumnya, saya sempat berjibaku di Sekolah Penyuluh Pertanian (SPP), sekolah kejuruan setingkat SMA/SMU. Jadi, pilihan saya pada fakultas pertanian lebih dominan karena dorongan cara berpikir linier sejak SPP/SMU.  

Meski begitu, saya tak pernah menegasikan fakta bahwa pergumulan penuh “Tahi Sapi” di Pertanianlah bekal petualangan hidup saya terbentuk. Kebiasan, hobi, dan sikap hidup saya pun masih terus bersinggungan dengan warna-warni dunia pertanian. Menyemai, mencangkok, Okulasi, Grafting, menyulap tahi sapi jadi duit, dan membonsai bunga, serta merawat tanaman buah dalam pot, dan tak lupa memahami pengaruh senyum sapi terhadappertumbuhan dan perkembangan tanaman Jagung dan kangkung, tetap menjadi aktifitas selingan di rumah. Hal ini saya lakukan untuk beberapa alasan: Merawat pengetahuan dan ingatan pada sejarah, juga karena hobi, merawat kehidupan, dan sekadar modus (biar kelihatan rajin di mata mertua... halah).

Dalam laku keseharian saya yang berisi selingan aktifitas yang berhubungan dengan dunia tanam-menanam ini, imaji-imaji masa lalu (masa penuh nakal) seakan tampak di depan mata. Selalu ada diskusi imanjiner penuh lelucon ala anak muda. Diskusi konyol yang lucu tapi bikin naik pitam.

Suatu saat ada dialog imajiner bersama Opal.
Saya: Opal, apa kiatnya biar badan kita cepat gemuk?
Opal: kau harus banyak makan dengan menu yang berkuah, seperti aquarium. Atau, makanlah yang berdaun: Daun pintu, daun jendela, juga daun sosoro (bisa bikin badan cepat gatal, bengkak, lalu gemuk).
Saya: Sssetan (dengan nada marah)
Opal: Jang bilang setan bagitu, Ssuanggi!. 

Konyolnya, lelucon ini memang pernah benar-benar terjadi dalam satu sesi kuliah yang kebetulan diasuh oleh  Ibu Mita. Dosen imut dan gendut itu pun tersinggung karena merasa lelucon itu kami tujukan untuk membully kegemukannya. Walhasil, saya dan Opal dihusir keluar dari ruang kuliah. Wajarlah kalau ia tersinggung. Tak ada cewek yang suka dengan kegendutan. Saat itu, sang dosen memang masih perawan.

Lelucon yang lain:

Saya: Opal, hari ini ngana (kau) adalah laki-laki paling ganteng di seluruh kebun binatang.
Opal: Jangan bagitu, nyong. Dasar kadal.
Seperti itulah kalau Opal ikut nimbrung dalam diskusi. Segala hal yang seharusnya dikelola dengan serius pun jadi rusak berantakan. Pria yang lahir langsung tertawa ini tak bisa diajak tertib diskusi, alih-alih serius. Opal pernah protes dan tak mau kuliah bahasa Inggris, hanya karena bahasa ini bukan bahasa nenek moyangnya.

Meskipun demikian, imaji-imaji saya tentang masa penuh liku itu tidak hanya tentang Opal. Ada hal-hal lain yang menggembirakan, menyedihkan, jugamenegangkan.
Ada kawan yang Cinlok di lahan praktek Tobenga, lalu bubar di lahan jati, Jan, atau Mangga Dua. Ada juga yang serius sampai menikah; ada yang gagal merayu bertahun-tahun, uppss, tak perlu diteruskan kisah ini.

Tentang hal-hal yang serius, terutama dalam dinamika perkuliahan, ada beberapa tipe kawan yang lumayan tekun, jenius dan disiplilin. Semua mata kuliah, dengan berbagai tugas pratek lapangan diselesaikan dengan tuntas sesuai perintah mentor. Saya adalah kategori mahasiswa yang sedikit bandel dalam urusan bikin tugas praktek. Apalagi di kelas yang diasuh mentor-mentor penyembah diktat. Saya selalu menghindar, meski tetap angkat topi pada yang displin. Tentu bukan hanya saya yang bandel. Jeri dan Sehan pernah dihusir keluar Laboratorium karena ketahuan memalsukan dokumen praktek, eeiit, stop (jangan ungkit aib mahasiswa nakal, hehehe).
Masih banyak teman lain yang juga tak kalah nakal. Tetapi mereka beruntung karena lihai mengelabui dan pandai marayu Dosen (ehem). Siapa yang percaya kalau Ucu Solissa, Kamal, Aswar, Sardi, Jul Bido, Ul Sialana, dan Feher Lasut itu lelaki yang ‘sportif’ dalam kuliah? Atau, siapa yang yakin kalau Wahyudin, Rahman Bacan, Wahab Tobolo, Albar, Ai, dan Ikbal Tomagola adalah pria jujur, yang tak pernah ‘nyontek’ kunci jawaban saat ujian semester, terutama untuk mata kuliah tingkat dewa seperti Rancangan Percobaan dan Ilmu Tanah (Ilmu Gali Lubang di Kebun Aren Kampung Makian, Bacan), dengan segala tetek-bengek seperti permeabilitas dan perkolasi, yang bikin kepala jadi mumet, itu? Ok, baiklah. Masih banyak lelucon lain, tapi tak cukup untuk saya rajut dalam note pendek ini. Yang pasti, saya tetap percaya semua kawan ini adalah orang baik yang penuh gairah.

Karenanya, saya memiliki banyak sekali alasan untuk memberi apresiasi, terutama karena kesempatan membangun kebersamaan dalam pergumulan memeroleh berbagai pengalaman dan persilangan dimensi intelektual, yang kini menjadi bekal merajut hidup dan merawat kehidupan. Guna menjaga sedikit ketrampilan yang masih terawat, yang saya pungut dari pergumulan akademis yang singkat itu, saya harus berterima kasih—meski tak cukup—pada banyak kamerad.
Terima kasih dan angkat topi untuk Ngoni samua: Diman Abaela, mahasiswa paling cepat meski rumahnya paling jauh dari kampus. Nuzul, mahasiswa yang juga cepat tuntas kuliahnya, meski sebelumnya sempat gagal di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Ida, perempuan pendek tapi pintar karena tubuhnya berisi otak semua. Ice, orang yang selalu Ceria. Saya pernah berhutang duit kepadanya sebesar Seratus Ribu Rupiah. Belum sempat saya lunasi sampai sekarang. Empat orang teman ini memiliki kemampuan yang luar biasa, terutama dalam ilmu statistik dan Rancangan Percobaan. Dua mata kuliah yang sangat ditakuti oleh otak kalkulator tengkulak atau ‘dibo-dibo’ seperti saya. Mereka memiliki kemampuan di atas kalkulator 3600FX, dan kerenanya memang layak jadi pejabat teras di Dinas Pertanian. 





Opal, Lelaki pembawa sisir rambut. “Lebih baik tidak makan daripada tidak sisir rambut,” katanya.
Sardi Sapsuha, Lelaki kurus (Tunggul), penyuka lagu-lagu slank dan Dewa. Sudah jadi Kadis Pertanian di Sula.
Salim Sialana, Ahli oven rumput dan gulma. Laki-laki ‘sabiji’ yang bikin banya ‘parampuan’ mati gantong rasa.
Sehan AR, sejurus dengan Salim, lelaki bermata tajam. Sekali tatap bikin mahasiswi berhenti berkedip.
Jeri, laki-laki karibo dari Halteng. Ia satu guru degang Opal, suka usil. Thankyu, Bung. Cukup banyak meropotkan bung di rumah Jati, waktu baku-cakar skripsi.
Jul Bido, pria bertanggung jawab asal palu, yang ahli mencangkong tapi gagal merajut cinta di Ternate.
Aja, Saudara perempuan paling kecil. Semoga sekarang sudah sukses.
Ning Nasijaha dan Ning Pora. Dua ning yang beda. Satu ribut satu badiam ‘dologn’.
Harit, laki-laki ‘panjang’ berdarah Mareku, tapi berjiwa Papua.
Ibu Aja, ibu bagi semua mahasiswa. Terima kasih so obrak-abrik rumah waktu biking sagala tugas dari mentor.
Pak Sof, Camat dan sekarang Kepala BLH Ternate.
Wahab Hi Usman, laki-laki tanoga dari Tobololo.
Aswar Patimura (Paitua Tinggi Muka Raksasa), Lelaki berdarah biru dari Banda Neira, turunan Patimura.
Ucu Solissa, Lelaki hitam manis asal Pulau Buru. Sekarang so jadi pejabat Panwas dan KPU.
Siamin Loilatu. Laki-laki ini Ucu pung sudara. Tukang ribut deng maruahe.
Ena G.M. Perempuan berdarah Batak, Ambon dan Galela (?). Sekarang so jadi Bos di Tobelo.
Rahman, Pengusaha Kamplang asal Mandawong. Sekarang pengusaha Gula Merah.
Feher Lasut, Lelaki berdarah Sangihe/Minahasa (?), berjiwa Patani, Halteng, Malut.

Tak lupa kelompok huru-hara: Risky Afrianti Nasi Padang, Masni, Leha Gode, As atlet Foli, Afni, Baya Sanana, Tata Tidore, Fatum Ambon, Surti Edo Dufa-dufa, Rosita Ishak Camat Weda, Risky Pora, Nuryadin, Robi, Salim Masuara, Odon Duwila, Ibu Nursafa, Ali Lestaluhu, Supardi Marikurubu, Dani Mangga Dua, Kamil Sanana, Jainuddin Patani, Wahyuddin Malifut, Ikbal Tomagola Banemo, Alm Ali Ohorella, Alm. Nia. Tahmid Bilo, Riski Pora.
Kalau ada yang tidak saya sebut namanya, itu pasti karena banya utang.... hahaha, bagitu sudah.
Rindu mo bakudapa deng ngoni samua, tapi tak punya keberanian  karena takut biking ngoni sibuk.
Terima Kasih Untuk Ngoni Samua.
Tepi Lembah, Kalumata, 28 Juli 2016.
Salam
Zhoel Rimba
Powered By Blogger

Pulau Ternate

Pulau Ternate

Bambu Gila

Bambu Gila
Tarian Adat Maluku/Maluku Utara

Cakalele

Cakalele
Pesta Perang Maluku Utara

CAKALELE

CAKALELE
Tarian Perang Maluku Utara

Soya-Soya

Soya-Soya
Tarian Perang Maluku Utara

www.kamus inggris-indonesia

Belalang

Belalang
Perusak Hutan

Komunitas Riset

Komunitas Riset
Pose bersama sang Guru "George Junus Aditjondro"

Pengikut

Mengenai Saya

Foto saya
Orang yang biasa-biasa saja.Peneliti lepas, Penulis lepas, Paralegal,Comunity Organiser,Fasilitator, konsultan.